Bisnis Uang Kuno

Uang kuno baik dalam bentuk uang kertas ataupun koin, kini menjadi incaran para kolektor untuk digunakan sebagai koleksi maupun lahan bisnis.

Uang kuno banyak digunakan orang dari hanya untuk sebagai koleksi para kolektor, atau disewa untuk keperluan tertentu, dan yang paling mutakhir adalah untuk keperluan mas kawin. Penulis termasuk yang menggunakan uang kuno sebagai mas kawin.

Indonesia sangat kaya dengan jenis uang kuno, dari jamanĀ  Kerajaan Majapahit hingga uang kertas Indonesia keluaran terkini. Uang kuno zaman majapahit dengan bentuk bulatan kecil sebesar kancing baju itu biasanya terbuat dari emas dan logam perunggu, tembaga, serta kuningan.

Lain lagi uang kuno pada jaman Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Raja Sultan Al Malik Al Zahir yang diperkirakan tahun 1297 masehi yang terbuat dari emas berbentuk bulatan kecil.

Sementara uang kuno paling mahal adalah uang kuno pada masa Kerajaan Hindu Jenggala yang diyakini ada pada abad ke sembilan masehi atau tahun 856 hingga 1158 masehi. Uang itu berbentuk bulatan sebesar biji jagung dengan nama “Krishnala” terbuat dari logam emas dan perak.

Uang kuno tersebut dihargai bervariasi hingga puluhan juta rupiah tergantung tahun uang tersebut.

Selain uang kuno pada masa kerajaan, para kolektor juga mencari uang kertas yang pernah ada di Indonesia baik pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang hingga uang tahun 1990.

Uang kertas dan koin pada masa penjajahan Belanda dengan perusahaan terkenalnya yakni “Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)” atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur Belanda dan uang bergambar Bung Karno juga menjadi incaran para kolektor.

Jika Anda tertari untuk mengoleksi atau menjadikan lahan bisnis, Anda harus paham cara merawat uang kuno. Perawatan uang kuno tidak sederhana karena memerlukan ruang khusus dengan perawatan yang teliti. Berikut cara merawat uang kuno khususnya uang kertas yang umum dikenal:

1. Masukkan dalam plastik.

Yang terpenting dalam perawatan uang kuno adalah sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan tangan. Jadi langkah pertama yang paling aman adalah adalah memasukkannya dalam plastik transparan seukuran yang sesuai dengan uang tersebut. Plastik ini bisa didapatkan dengan mudah di toko yang khusus menjual aneka kantong plastik. Kadang plastik semacam ini sudah dilengkapi dengan seal perkekat.
2. Jangan dilaminating

Uang yang sudah dilaminating akan membuat grade uang tersebut jatuh dan menjadi nyaris tidak berharga, kecuali memang Anda dari awal sama sekali tidak tertarik dengan urusan “harga jual” dan hanya berniat mengkoleksi untuk diri sendiri saja.

3. Simpan di dalam album

Untuk mencegah uang yang sudah dimasukkan dalam plastik seperti cara di atas, menjadi berserakan maka ada baiknya dikumpulkan dan dimasukkan dalam satu album. Album yang dipakai adalah album photo.
4. Masukkan dalam ruang kedap kelembaban

Terakhir, untuk menghindari pengaruh kelembaban simpanlah dalam dry box. Benda ini sebenarnya adalah peralatan khusus untuk menyimpan kamera agar terhindar dari jamur. Karena benda semacam ini berharga tidak murah, maka Anda bisa menggantinya dengan kaleng biskuit atau yang sejenisnya. Jangan lupa ditambahkan silica gel atau arang kelapa sebagai penyerap kelembaban serta kapur barus untuk mencegah ngengat.

Sulit untuk mendapatkan uang kuno. Di Jakarta bisa ditemukan di Pasar Baru, mungkin di daerah-daerah lain memiliki tempat tersendiri untuk menjual uang kuno. Namun Anda dapat juga membeli uang kuno secara online di :

  1. www.uangkuno.net
  2. www.uanglama.com
  3. www.uang-kuno.com
  4. www.tokouangkuno.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>